Jumat, 24 Januari 2014

piluh
abdul mustakim

malam ini
kusambut piluh
dengan secawan kopi
sambil menghisap rokok
lalu kubuang tinggi tinggi kepulan asapnya
diatas langit yang gelap
piluh merangkak turun kebumi
menyentuh satu persatu
jiwa jiwa yang mendambakan kemerdekaan

sesak
entah karena asap rokok yang kuhirup
tapi ku yakin gemelut dalam hati ini tak terelakan
menjalar ketubuh mencekik tengorokan
air mata menetes
turun membasahi pipi dengan begitu mesra
ku baca bait demi bait yang tertulis dari tangan seniman
pengenang sejarah yang hampir terlupakan
sejarah darah kini menjadi sampah.

arghhh.!!!
kopi ini panas sekali kawan.
membakar lambung.
namun ini belum seberapa parah
masih ada yang lebih panas.!!
yaitu sejarah yang membakar jiwa.!!!
gersang membakar jiwa.
piluh meronta retak dikalbu.
terbakarlah sudah tak tersisah.
piluh sangatlah piluh.!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar